Di wilayah minoritas muslim Tiga Juhar, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dulunya bukanlah pilihan yang mudah dibayangkan. Bagi sebagian anak-anak dhuafa, menyelesaikan pendidikan dasar saja sudah menjadi tantangan tersendiri.
Di tengah kondisi tersebut, kehadiran Sekolah Bintang Rabbani menjadi sangat berarti. Sebagai satu-satunya sekolah Islam di wilayah itu, Bintang Rabbani tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuhnya identitas, nilai, dan harapan bagi anak-anak muslim setempat.
Dalam beberapa tahun terakhir, cerita perlahan berubah.
Sekolah Bintang Rabbani mulai menunjukkan hasil dari proses panjang yang dijalani. Dalam rentang tahun 2023 hingga 2026, sedikitnya 9 siswa berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri melalui berbagai jalur seleksi, seperti UTBK, UMPTKIN, dan SPAN-PTKIN.
Capaian ini menjadi penanda penting bahwa akses pendidikan yang tepat mampu membuka jalan baru, bahkan dari wilayah yang sebelumnya memiliki keterbatasan.
Direktur Sekolah Bintang Rabbani, Amal Lubis, mengingat betul bagaimana awal perjalanan sekolah ini dimulai. Dengan kondisi serba terbatas, sekolah ini awalnya hanya memiliki jenjang Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.
“Dulu kami memulai dari yang sangat sederhana. Tidak banyak yang percaya anak-anak di sini bisa melangkah sejauh ini,” ujarnya.
Menurut Amal, tantangan terbesar bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga membangun harapan di tengah kondisi yang serba terbatas. Sebagai satu-satunya sekolah Islam, Bintang Rabbani juga memikul tanggung jawab besar dalam menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus membuka akses pendidikan yang layak.
Seiring waktu, perubahan mulai terlihat. Anak-anak yang dulu belajar dengan segala keterbatasan, kini tumbuh dengan kepercayaan diri dan keberanian untuk bermimpi lebih tinggi.
“Ketika ada yang pertama kali lulus ke perguruan tinggi, itu menjadi titik balik. Anak-anak lain mulai percaya bahwa mereka juga bisa,” tambahnya.
Keberhasilan para siswa ini bukan sekadar tentang angka kelulusan. Di baliknya, ada proses panjang yang diisi dengan disiplin, ketekunan, serta semangat untuk keluar dari keterbatasan.
Kini, perkembangan Sekolah Bintang Rabbani tidak hanya terlihat dari capaian akademik. Program pendidikan juga mulai mengarah pada penguatan nilai keislaman melalui Boarding Tahfidz.
Beberapa santri telah menunjukkan progres hafalan Al-Qur’an yang signifikan. Sumayyah, misalnya, telah mencapai 14 juz 8 lembar, disusul Syahriani Putri dengan 12 juz, Keysha 11 juz 6 lembar, Anggiana Pohan 8 juz 2 lembar, serta Ulan dan Zahra Syifa masing-masing 7 juz.
Bagi pihak sekolah, capaian ini menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an.
Perjalanan Sekolah Bintang Rabbani di Tiga Juhar menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu hadir secara instan. Ia tumbuh perlahan, dari langkah-langkah kecil yang konsisten dari sebuah sekolah sederhana di wilayah minoritas muslim, hingga mampu mengantarkan anak-anaknya melangkah ke perguruan tinggi.
Apa yang dulunya terasa jauh, kini perlahan menjadi kenyataan.




