Kehadiran Rumah Singgah Pasien Bersama Dompet Dhuafa Waspada membawa manfaat bagi pasien dan keluarga yang harus menjalani pengobatan berulang di Kota Medan. Fasilitas tempat tinggal dan makan gratis membantu meringankan beban keluarga, terutama bagi pasien yang datang dari luar daerah dan membutuhkan waktu tinggal lebih lama untuk menjalani perawatan.
Manfaat tersebut dirasakan Erna (45), pasien kanker asal Sei Bejangkar yang berulang kali menjalani pengobatan di RSUP H. Adam Malik, Medan. Ia harus menjalani serangkaian tindakan medis, mulai dari terapi sinar dan kemoterapi hingga operasi.
Di tengah proses pengobatan yang membutuhkan waktu dan biaya, keberadaan Rumah Singgah Pasien menjadi bantuan berarti bagi Erna dan keluarganya. Fasilitas tempat tinggal dan makan gratis membantu mengurangi beban kebutuhan sehari-hari selama menjalani pengobatan di Medan.
“Terima kasih atas hadirnya Rumah Singgah Pasien. Tempat tinggal dan makan gratis ini sangat membantu meringankan keluarga pasien,” ungkap Erna.
Sebagai ibu dari empat anak, Erna menjalani perjuangan pengobatan dengan dukungan keluarga. Dengan adanya rumah singgah, kebutuhan tempat tinggal selama menjalani pengobatan dapat terbantu sehingga keluarga bisa lebih fokus mendampingi proses perawatannya.
Manfaat serupa juga dirasakan Tiesma Harahap (50), pasien asal Gunung Tua yang didampingi putra sulungnya. Keluarganya harus menghadapi kondisi kesehatan suami Tiesma yang mengalami kecelakaan hingga mengalami gangguan saraf dan tidak sadarkan diri selama tiga minggu ketika menjalani perawatan di ruang ICU.
Setelah menjalani perawatan intensif, suami Tiesma mulai sadar. Namun, ia masih membutuhkan kontrol medis secara berkala ke rumah sakit. Kondisi tersebut membuat keluarga harus melakukan perjalanan berulang untuk mendampingi proses pemulihannya.
Bagi Tiesma dan keluarganya, kebutuhan tempat tinggal selama menjalani pengobatan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Kehadiran Rumah Singgah Pasien memberikan dukungan melalui fasilitas tempat tinggal dan makan gratis, sehingga keluarga dapat mengurangi pengeluaran selama berada di Medan.
“Alhamdulillah, dengan adanya Rumah Singgah Pasien ini, kami sangat terbantu. Padahal kami tidak kenal siapa yang memilikinya. Tapi pertolongan Allah membuat kami bisa mendapatkan tempat tinggal dan makan selama menjalani pengobatan. Terima kasih kepada donatur Dompet Dhuafa Waspada,” ujar Tiesma.
Pengalaman Erna dan Tiesma memperlihatkan bahwa perjuangan pasien tidak hanya berlangsung di ruang perawatan rumah sakit. Pasien dan keluarga yang datang dari daerah lain juga membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar selama menjalani pengobatan.
Rumah Singgah Pasien menjadi salah satu bentuk dukungan tersebut. Kehadirannya diharapkan dapat membantu pasien dan keluarga melewati proses pengobatan dengan beban kebutuhan akomodasi yang lebih ringan.
Rumah Singgah Pasien di Sumatera Utara terwujud melalui kolaborasi 14 lembaga zakat dan kemanusiaan yang dikoordinasikan dalam semangat sinergi Forum Zakat (FOZ) Sumatera Utara. Kolaborasi tersebut melibatkan Dompet Dhuafa Waspada, Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), DT Peduli, Rumah Zakat, PPPA Daarul Qur’an, Nurul Hayat, Yatim Mandiri, Ikut Berbagi Indonesia, Maskanul Insani, Rumah Yatim, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Yakesma, Griya Yatim Dhuafa, dan Lembaga Manajemen Infaq (LMI).
Melalui kolaborasi ini, Rumah Singgah Pasien menyediakan tempat tinggal sementara dan makanan bagi pasien maupun pendamping yang membutuhkan selama menjalani pengobatan. Program ini diprioritaskan untuk membantu masyarakat kurang mampu yang harus mengakses layanan kesehatan jauh dari tempat tinggalnya. Adapun calon penerima manfaat perlu berkoordinasi dengan pengelola Rumah Singgah Pasien untuk memastikan kriteria penerimaan, ketersediaan tempat, serta dokumen yang dibutuhkan.
Kehadiran Rumah Singgah Pasien menjadi wujud kepedulian dan gotong royong berbagai lembaga dalam mendukung pasien dan keluarga. Lebih dari sekadar tempat beristirahat, rumah singgah menjadi ruang bagi keluarga untuk tetap mendampingi orang terkasih menjalani pengobatan tanpa harus menghadapi seluruh beban hidup seorang diri.




